Nikmatnya Mie Buatan Anak TK
Bagi anak-anak seusia sekolah taman kanak-kanak, makan mie pasti sudah biasa. Bahkan mungkin makanan tersebut menjadi favorit baginya. Tapi bagaimana kalau mereka memasak dan menghidangkan mie ? Pasti seru. Seperti yang dilakukan oleh puluhan anak, yang mengikuti lomba memasak dan menghidangkan mie pada peringatan hari pendidikan nasional, 2 Mei di halaman sekolah dasar (SD) Ananda di komplek perumahan Purin Kendal ini. Mereka yang datang dari berbagai sekolah TK se Kabupaten Kendal tersebut, seperti layaknya koki-koki ahli masak. Tidak canggung. Mulai menyiapkan air, minyak goring, bumbu masak, mengupas buah, sosis, dan lainnya. Mereka juga sepertinya sudah biasa, meletakkan wajan diatas kompor gas dan kemudian menyalakannya. Tapi yang namanya anak, tetap anak. Polah tingkahnya saat mengikuti lomba memasak dan menghidangkan mie pun membuat tertawa orang yang menyaksikannya. Lihat saja, yang dilakukan oleh Sebastian. Peserta dari TK Universal Ananda ini, malah sibuk menjilati blue band yang menempel di tangannya sambil senyam senyum. Padahal kompor gas sudah ia nyalakan dan wajan sudah berada di atasnya. Akibatnya, orang tua yang mendampinginya bingung. Demikian juga dengan Andriani dari TK Pertiwi. Gadis kecil cantik tersebut, sangat asyik dengan sosis yang ada di tangan. Ia seperti tidak menghiraukan peringatan panitia kalau lomba sudah dimulai dan peserta sudah bisa memulai memasak.
“Dasar anak-anak,” gerutu seorang ibu yang melihat lomba.
Kelucuan terlihat lagi dari peserta lain. Nabila, namanya. Ia terpaksa harus dengan cara melempar ketika mau memasukkan mie ke dalam air yang mendidih. Akibatnya, panci tempat air yang ada di atas kompor hampir jatuh. Semua yang melihat jadi tertawa. Namun begitu,pada dasarnya lomba memasak dan menghidangkan mie tersebut berjalan sangat lancer dan sangat meriah.
“Enak,” kata Mirsa, peserta lomba dari TK Aisyiah Bustanul Atfal, setelah mencicipi mie hasil masakannya. Setelah itu, dengan dibantu orang tuanya, ia menaruh mie yang sudah matang ke dalam piring dan kemudian diberi tomt dan beberapa sawi sebagai penghias.
“Lebih enak kalau dibandingkan mie buatan mama,” katanya lucu. Mamanya ayang ada di sampingnya jadi tersenyum.
Hariyono, peserta lain dari TK Weleri, rupanya terlihat lebih cekatan. Ia sudah mempersiapkan segala hal yang akan dijadikan untuk penghias mie gorengnya. Ada wortel, kol, cabe merah besar, dan juga telur goreng. Meskipun rasanya belum pasti enak, namun kalau dilihat dari hiasanya, mie milik lelaki kecil itu sudah sangat ‘menggoda’ lidah penglihatnya.
“Mie goreng adalah favorit saya. Hampir setiap hari, saya selalu makan mie goreng,” katanya lucu.
Melatih Mandiri
Rian, peserta lomba lain, mengaku sangat suka sekalimengikuti lomba memasak dan menghidangkan mie. Alasnnya, karena memasak mie itu mudah. Setelah itu, nanti mienya bisa dimakan.
“Senang. Karena dapat mie dan bias dimakan,” katanya riang.
Hal sama juga diakui oleh Wanda. Perempuan dari Tk Kendal ini, berkali-kali tersenyum saat melihat mie hasil masakannya. Ia seperti tidak percaya dengan apa yang telah ia lakukan. Sampai-sampai, gadis berkulit putih yang memakai pakaian seragam sekolah biru putih itu, tuidak mau membawa mie masakannya ke meja untuk kemuidna ditata.
“Mienya enak, ma. Saya makan dulu, ya ?” katanya kepada mamanya yang ada disamping. Otomatis mamanya jadi tertawa dan cepat-cepat melarang. Sebab mie buatan Wanda harus dinilai dulu oleh panitia.
Menurut penggagas lomba memasak dan menghidangkan mie, Nunik, tujuan lomba ini sebenarnya untuk melatih kemandirian anak sejak usia dini. Orang tua boleh mendampingi. Lomba sendiri digelar dalam rangka memperingati hari pendidikan nasional dan ulang tahun Yayasan Ananda ke 6. sebenarnya selain lomba memasak, masih ada lomba-lomba lain seperti, adzan, tari, menyanyi dan juga basar. Lomba diikuti oleh murid Tk se Kabupaten Kendal.
“Kita harus bisa melatih anak supaya mandiri. Sebab ini adalah modal dasar anak,” katanya.
Ibu yang juga menjadi guru SMA PGRI 01 Kendal ini menambahkan, yang terutama dalam lomba ini adalah keberanian anak. Bukan piala atau hadiahnya. Pasalnya hal itu adalah yang terpenting.
Orang tua anak yang ikut dalam lomba memasak dan menghidangkan mie ini, semuanya menyambut positif lomba tersebut. Selain bias melatih anak untuk tidak tergantung pada orang lain, juga bias untuk sarana refresing. Sebab dalam lomba ini, ada tawa, keseriusan dan juga kebahagiaan.
“Ini adalah suatu hal yang luar biasa. Anak saya yang kalau di rumah selalu menyuruh orang tuanya membuatkan mie, tiba-tiba bisa membuat dan mengidangkan mie. Saya belum merasakan mie buatan anak saya. Tapi saya sudah merasakan aroma kesedapannya,” puji Rahayu, orang tua salah satu peserta lomba.
Pujian-pujian lain untuk anaknya, juga datang dari semua orang tua yang ditemui. Mereka merasa kagum pada anak-anaknya. Sebab yang dilakukan oleh anaknya, tidak pernah mereka jumpai di rumah. Anak-anak mereka tiba-tiba bisa menjadi orang dewasa.
“Saya terharu dengan apa yang dilakukan oleh anak saya. Tiba-tiba ia bisa seperti anak ajaib. Bias melakukan apa yang ia maui sendiri,” kata Indah, ibu lain yang juga mengagumi anaknya.
Ya, itulah anak yang selalu tampil luar biasa ketika diberi kepercayaan. Dan inilah orang tua. Yang selalu mengkuatirkan anak. Sehingga sering melarang apa-apa yang akan dilakukan oleh si bocah. Akibatnya, hamper tak percaya ketika melihat anaknya bias melakukan apa yang biasa dipekerjakan oleh orang dewasa.
Slamet Priyatin.http://jempol01.wordpress.com/2009/05/04/berita-terkini-3/